Rabu, 29 Februari 2012

تفسير الم يأن للذين امنوا ان تخشع قلوبهم لذكر الله

1 komentar:
Abstrak
Merupakan hal yang sangat penting membicarakan masalah hati. Hal itu tidak lain karena posisi hati itu sendiri. Ia lah yang membedakan manusia dari hewan yang lain. Sedikit usaha kami curahkan dengan rangkaian kata yang membahas mengenai hati.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“ belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al Hadid : 16)

Bila berbicara mengenai hati, kita perlu mengetahui bahwa manusia disamping tersusun dari raga yang bisa kita lihat, juga tersusun dari akal dan hati. Dan keduanya merupakan pembeda antara manusia dan hewan yang lain. Dalam ayat diatas Allah subhanahu wata’ala menyindir kita sebagai seorang yang beriman agar hati kita tunduk dan patuh kepadaNya, serta mengingatkan kita supaya jangan meniru orang-orang sebelum kita (sebelum masa nabi Muhammad), yaitu mereka berhati keras dan tidak tunduk kepada Allah akibat jarang dan tidak terbiasanya mereka mengingatNya.
Dibawah ini, kami berusaha untuk sedikit menyelami lautan kandungan ayat diatas.

Asbabunnuzul (sebab turunnya ayat)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mubarok, dari Sufyan bahwa Al A’masy berkata : “tatkala para sahabat nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dan merasakan sedikit kenyamanan, merekapun tidak seperti sebelumnya dalam beribadah. Lantas turunlah ayat ini sebagai teguran terhadap mereka.
Sedangkan dalam kitab asbabunnuzul karya Abil Hasan Ali Al Wahidi disebutkan bahwa menurut Muqotil dan Al Kalbi ayat diatas diturunkan setahun setelah hijroh terkait orang-orang munafiq. Yaitu pada suatu hari mereka (orang-orang munafiq) berkata pada Salman Al Farisi rodliyallahu ‘anhu : “ tolong ceritakan kepada kami sebagian isi kitab Taurot, karena didalamnya terdapat banyak keajaiban”. Lalu turunlah ayat ini. Lain lagi menurut ulama selain Al Kalbi dan Moqotil. Mereka mengatakan bahwa ayat di atas mengenai orang-orang mu’min. Lebih jelasnya silahkan merujuk pada kitab asbabunnuzul karya Abil Hasan Ali Al Wahidi mengenai sebab turunnya ayat diatas.

Orang-orang yang terpengaruh ayat di atas

Ada baiknya kita mengetahui beberapa orang yang terpengaruh oleh ayat di atas dengan tujuan supaya kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Diantara orang-orang yang merasakan dan sangat terpengaruh oleh ayat ke 14 surah Al Hadid itu adalah Fudloil Bin ‘Iyadl dan Abdulloh Bin Al Mubarok. Keduanya sama-sama terlelap dan jatuh pada lubang keburukan. Namun Allah dengan kasihNya mengangkat keduanya menuju kepadaNya lewat ayat ini.
Fudloil Bin ‘Iyadl dulunya merupakan seorang pembegal dan perampok yang menakut-nakuti para kafilah dan mengambil harta yang mereka bawa. Sampai-sampai jalur yang sering dibuat tempat operasinya dikenal dengan namanya dan menjadi jalur yang paling menakutkan bagi para musafir. Lantas pada suatu hari ia jatuh hati pada seorang gadis. Dan cinta itu kian membuncah seiring berjalannya waktu sehingga menggiringnya untuk selalu ingin bertemu dengan kekasih hatinya itu. Ia pun mencari waktu yang tepat untuk bisa melihat gadis yang telah menawan hatinya tersebut. Akhirnya ia memilih waktu tengah malam yang senyap dan sunyi, waktu dimana para manusia terlelap dalam buaian mimpi mereka. Berangkatlah ia menuju rumah sang kekasih lalu berusaha memanjat dinding kokoh yang mengelilingi rumah kediamannya. Saat itulah ia mendengar suara orang yang sedang membaca ayat 14 surah Al Hadid di atas. Lantas ia pun menjawab panggilan Allah azza wajalla dalam ayat tetsebut dengan ucapan : “ tentu wahai Tuhanku. Waktunya (untuk menundukkan hati pada dzikrulloh) sudah tiba”. Itulah momen yang menjadi titik balik perubahan dalam kehidupan seorang Fudloil Bin ‘Iyadl, dari seorang penyamun menjadi seorang ahli ibadah, dari seorang yang sangat sering menebar teror menjadi orang yang suka menebar kasih.

Adapun Abdulloh Bin Al Mubarok, ia pun pernah mengunakan masa mudanya untuk berbuat maksiat kepada Allah. Dia dulunya sangat suka memainkan alat musik. Hingga suatu ketika pada musim panas, ia dan teman-temannya berkumpul di sebuah taman. Makan dan minum serta bersenang-senanglah yang mereka lakukan disana. Kemudian Abdulloh tidur sejenak dan ia terbangun tatkala sebuah dahan pohon bergerak diatas kepalanya. Melihat kondisi yang menarik itu ia pun mengambil alat musiknya untuk memainkannya seperti biasanya, namun ia kaget bukan kepalang saat alat musik yang ia pegang bisa berbicara dan membacakan ayat ke 14 surah Al Hadid diatas. Lantas alat musik itu ia banting ke tanah dan cahaya taufiq merasuk dan berdiam di hatinya. Akhirnya ia berubah menjadi seorang yang sangat rajin dalam beribadah dalam segala aktivitasnya. Rahimahumalloh rahmatan wasi’ah wa yarzuqona hubbahuma amiin. Untuk lebih luasnya keterangan mengenai sosok keduanya bisa dibaca dalam Syakhshiyyat istawqofatni hal.17-76 karya syekh Muhammad Sa’id Romadlon Al Buthi.

Penjelasan

Manusia dilengkapi oleh Allah subhanahu wata’ala dengan dua hal yang sangat penting yaitu akal dan hati. Keduanya memiliki tugas yang berbeda akan tetapi saling berhubungan dan saling melengkapi. Akal bertugas menentukan arah tujuan perjalanan manusia. Sedangkan hati sebagai pendorong bagi manusia untuk mengikuti petunjuk akal.
Disini kami menfokuskan pembahasan kami mengenai hati. Yang kami maksud dengan hati disini bukanlah organ tubuh tertentu menurut ahli biologi atau menurut istilah kedokteran, tetapi suatu tempat berkumpulnya perasaan cinta, benci, dan kagum. Hati laksana cermin yang sangat terpengaruh oleh sesuatu yang ada dihadapannya. Jika cermin itu dihadapkan ke langit, maka bersinarlah cermin tadi dan begitupun sebaliknya, ketika dihadapkan kedalam sumur, maka cermin tadi akan berwarna gelap.
Seperti itulah perumpamaan hati manusia. Jika hati kita hadapkan pada sesuatu yang kita senangi dan kita dambakan, maka timbulah perasaan cinta (senang). Dan ketika dihadapkan pada sesuatu yang kita benci maka timbulah perasaan sedih. Umpamanya kita melihat ada orang yang mengungguli kita dalam ilmu, bisnis dan kekayaan, maka timbullah rasa iri dalam hati kita. Dan saat kita tidak diperhatikan oleh orang disekitar kita, tidak dihargai dan tidak dihormati sesuai keinginan kita, maka kita akan marah dan mata kitapun merah. Sebaliknya saat kita mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain, lebih-lebih pujian tersebut berasal dari orang yang kita cintai, hormati dan kita segani. Tidak terbayang betapa bahagianya hati kita. Itulah fungsi hati.
Jika kita bertanya : Apa yang mendorong manusia untuk melakukan aktivitasnya masing-masing? Maka kita akan menemukan bahwa menurut ahli kejiwaan 70% pendorong manusia dalam beraktivitas ialah berasal dari hati. Selebihnya (30%) merupakan dorongan dari akal. Andaikan semua aktivitas manusia berdasarkan dorongan dari akal maka pastilah kemakmuran dan ketentraman akan menyebar dalam kehidupan kita, dikarenakan dengan akal kita mengetahui mana yang baik dan buruk. Tetapi kenyataan berkata lain.

Aplikasi

Banyak para pengusaha dengan menghalalkan berbagai macam cara berusaha untuk menghasilkan kekayaan yang melimpah. Begitu juga para koruptor. Mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu salah, hanya saja hati mereka yang telah terkotori oleh keinginan syahwat dunia, itulah yang mendorong mereka untuk bertindak demikian.
Alangkah baiknya kita mengambil pelajaran dari kisah yang disebutkan dalam Al Qur’an tentang seseorang yang telah diberi karunia berupa ilmu agama, namun ia tidak kuasa menahan hawa nafsu duniawinya sehingga ia bertingkah layaknya seekor anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya. Orang tersebut –sebagaimana menurut mayoritas ahli tafsir- bernama Bal’am bin Ba’uro’.
Bal’am Bin Ba’uro’ -sebagaimana yang dikatakan oleh Malik Bin Dinar- ditugaskan oleh nabi Musa alayhissalam untuk mengajak raja Madyan (nama daerah) kepada keimanan. Namun setelah ia menerima hadiah dan harta berlimpah dari sang raja, ia pun terlena dan lupa akan tugas utamanya yaitu mengajak raja pada keimanan. Bisa dilihat dalam AlJami’ li ahkami lqur’an vol.9, hal.383 karya imam Al Qurthuby. Sekarang marilah kita simak bersama firman Allah berikut ini :
(((((((( (((((((((( (((((( (((((((( (((((((((((( ((((((((((( ((((((((((( ((((((( (((((((((((( (((((((((((( ((((((( (((( (((((((((((( ((((( (((((( ((((((( ((((((((((((( ((((( ((((((((((((( (((((((( ((((( (((((((( (((((((((( ((((((( ( ((((((((((( (((((((( (((((((((( ((( (((((((( (((((((( (((((((( (((( (((((((((( ((((((( ( ((((((( (((((( (((((((((( ((((((((( ((((((((( ((((((((((((( ( (((((((((( (((((((((( (((((((((( ((((((((((((( (((((
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
176. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’raf : 175-176).

Begitu juga kisah Ibnu Saqo. Seorang alim sekaligus penghafal Al Qur’an yang satu zaman dengan syekh Abdul Qodir Al Jaylani, namun hidupnya berakhir dengan tragis.
Alkisah dahulu ada tiga orang yang bermaksud untuk bertamu pada seorang yang dikenal wali bernama syekh Yusuf Al Hamadzani. Ketiga orang tersebut adalah syekh Abdul Qodir Al Jaylani, Ibnu Ashrun dan Ibnu Saqo.
Tanpa kesepakan sebelumnya merekapun bertemu ditengah pejalanan menuju kediaman syekh Yusuf Al Hamadzani. Saat itulah terjadi perbincangan diantara mereka bertiga seputar maksud dan tujuan apakah yang melatarbelakangi kepergian ketiga orang tersebut menuju syekh Yusuf Al Hamadzani.
Ibnu Ashrun mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk meminta doa syekh Yusuf Al Hamadzani supaya ia menjadi orang yang kaya raya.
Ibnu Saqo selanjutnya mengungkapkan tujuannya. Ia pun berkata : “aku ingin menguji syekh Yusuf itu dan aku ingin memepermalukannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah aku persiapkan sebelumnya”. Sedangkan syekh Abdul Qodir Al Jaylani mengatakan bahwa tujuannya adalah meminta doa barokah dari syekh Yusuf Al Hamadzani.
Setelah mereka sampai ke kediaman syekh Yusuf Al Hamadzani dan dipersilahkan masuk ke dalam rumah beliau. Sebelum mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka, syekh Yusuf langsung berkata kepada masing-masing dari ketiga orang tadi.
Kepada Ibnu Saqo, syekh Yusuf berkata : “ aku melihat kekufuran diantara kedua matamu”. Lantas beliau menjawab semua pertanyaan yang sudah dipersiapakan sebelumnya oleh Ibnu Saqo, padahal belum ia sampaikan. Untuk Ibnu Ashrun, syekh Yusuf berkata : “ hartamu nanti akan sampai pada dadamu”. Yakni dia akan menjadi seorang miliarder. Kemudian syekh Yusuf mengarahkan perkataannya kepada Syekh Abdul Qodir Al Jaylani seraya berkata : “kakimu nanti akan berada di atas pundak para wali di zamanmu”. Dan seiring berjalannya waktu, doa dan perkataan syekh Yusuf Al Hamadzani menjadi kenyataan.
Ibnu Ashrun kini menjadi orang yang sangat kaya . Dan kuburannya berada di Damaskus di distrik yang bernama Ashruniyyah. Syekh Abdul Qodir Al Jaylani sendiri tidak perlu kita perdebatkan lagi mengenai kewalian beliau.
Untuk orang yang terakhir yakni Ibnu Saqo, ia mempunyai cerita sendiri. Suatu hari ia diutus oleh khalifah kala itu untuk menuju raja Romawi guna menghadiri undangan dari raja tersebut perihal dialog mengenai agama. Saat ia berada di istana raja itulah ia melihat puteri sang raja dan jatuh hati padanya. Ia pun ingin menikahinya. Kemudian ia mengungkapkan hal itu kepada sang raja. Tentu raja tersebut tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Lantas raja membuat persyaratan yang harus dipenuhi oeh Ibnu Saqo guna mewujudkan keinginannya itu. Syarat tersebut adalah Ibnu Saqo harus rela melepas Islamnya untuk kemudian memeluk agama nasrani sebagaimana agama sang raja. Dan ternyata Ibnu Saqo pun menyanggupi syarat tersebut. Namun setelah murtadnya ia dari Islam, bukannya keuntungan dan kesenangan yang ia peroleh. Justru sebaliknya, ia dicampakkan dan ia lalui hari-harinya dengan kondisi yang memperihatinkan.
Pada suatu hari ia ditanyai apakah ia masih hafal Al Qur’an seperti sedia kala? Dia pun menjawab: “aku sudah lupa semuanya kecuali satu ayat, yaitu
((((((( (((((( ((((((((( ((((((((( (((( (((((((( ((((((((((( (((
2. Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al Hijr : 2).
Dan akhirnya ia pun mati dalam kondisi mengenasakan. Na’udzu billahi min dzaalik. Untuk selengkapnya bisa ditelaah dalam kitab Syadzarotudzdzahab vol.4, hal.111 karya Ibnu ‘imad.

Al ‘Ilaaj (penanggulangan)

Lantas dengan cara apa kita dapat membersihkan hati kita sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk melakukan kebaikan?
Untuk menjawab pertanyaan diatas manusia menggunakan sistem yang namanya tarbiyah (pendidikan). Berbagai macam cara mendidik telah diterapkan namun tujuannya hanya satu yaitu menundukan ego dan perasaan terhadap petunjuk akal. Sebab semua tahu bahwa jika yang terjadi adalah sebaliknya (akal tunduk terhadap perasaan dan ego) maka kerusakan dan kehancuranlah yang akan terjadi. Untuk itu, perlu kita ketahui bahwa hatilah yang memegang kendali dalam kehidupan manusia sedangkan akal hanya sebatas lampu yang menerangi perjalanannya.
Jika hati sudah dipenuhi dengan berbagai macam keinginan duniawi ditambah iri dan dengki terhadap orang lain, maka masih adakah ruang untuk ditempati perasaan cinta kepada Allah? Bahkan akal kadang kala diperalat untuk menggapai syahwat yang menggebu dalam hati. Untuk hati yang seperti ini kita perlu mengetahui bahwa faktor utama yang menyebabkan kotornya hati adalah bertambahnya titik hitam pada hati yang dalam Al Qur’an disebut ar ran, yaitu:
((( ( ((((( ((((( (((((( (((((((((( ((( (((((((( ((((((((((( ((((
Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (Al Muthoffifin:14)


Seorang manusia setiap kali berbuat dosa maka satu titik hitam akan menempel sebagai noda di hati. Jika dia segera bertaubat maka titik hitam tadi akan terhapus. Namun jika terus menerus dibiarkan maka bukan tidak mungkin hati akan dipenuhi oleh titik hitam yang mengakibatkan kerasnya hati.
Andai menghapus titik hitam pada hati sama dengan menghapus tulisan yang ada pada papan tulis pastilah sangat mudah bagi kita untuk menghapusnya, tetapi untuk membersihkan hati dibutuhkan terapi secara bertahap.
Langkah pertama ialah dengan bertaubat dari semua dosa yang kita lakukan dan menjauhi segala perkara haram. Kita tumbuhkan rasa penghambaan kita kepada Allah setiap kali kita terjatuh pada jurang dosa. Perasaaan penghambaan itu akan membuat kita malu terhadap diri kita sendiri. Semua nikmat yang kita rasakan bahkan kita bergelimang didalamnya, semua itu dari Allah, lantas kita gunakan untuk berbuat maksiat dan melanggar laranganNya. Selama kita masih mempunyai perasaan, kita akan merasa malu akan hal itu. Jika langkah pertama ini sudah bisa kita lewati selanjutnya kita melangkah pada tahap yang kedua. Yaitu dengan memperbanyak melakukan kesunahan serta mengingat Allah dalam aktivitas kita. Jika memang langkah ini dapat kita lalui dengan baik maka syahwat duniawi yang tadinya menghalangi hati kita dari menghadap Allah sedikit demi sedikit akan menghilang hingga pada akhirnya kita siap untuk melanjutkan pada tahap selanjutnya.
Langkah selanjutnya merupakan buah dari langkah sebelumnya, yaitu tumbuhnya rasa cinta kepada Allah Sang pemberi nikmat kepada kita. Kemudian rasa cinta ini akan terus tumbuh dengan baik jika kita rawat dan kita siram dengan memperbanyak mengingatNya.
Cara paling ampuh untuk menjaga dan merawat rasa cinta kepada Allah adalah dengan selalu menghubungkan semua kenikmatan kepadaNya.
Nah jika hati kita sudah merasakan cinta kepadaNya maka semua hal indah yang dilihat mata, dirasakan oleh hidung dan didengar telinga lalu sampai ke hati, semua itu akan ditanggapi oleh hati sebagai pesan indah dari Sang penguasa alam Allah subhanahu wata’ala.
Jadi, walau sama-sama melihat indahnya hutan yang ada dilereng gunung saat musim hujan dan indahnya pemandangan taman kala musim semi, terdapat perbedaan antara orang yang merasakan rasa cinta kepada Allah dan yang tidak. Bahkan orang yang tidak merasakan rasa cinta itu akan didera kebingungan melihat indahnya alam, semilirnya angin dan keteraturan yang ada disekitarnya.
Keterangan panjang diatas merupakan inti dari dzikir yang paling pokok dan penting. Memang sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa dzikir adalah dengan mengucapkan lafadz-lafadz yang dianjurkan dalam agama Islam berupa pujian dan doa’ kepada Allah. Hal itu memang benar, namun ia hanya merupakan bagian kecil dari inti dzikir yang pokok, yaitu dzikir menggunakan hati. Hal tersebut tertumpu pada robthunni’am bil mun’im (mengaitkan semua nikmat dengan Sang pemberi nikmat, Allah).


Pentingnya dzikir dalam kehidupan

Merupakan hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi adalah seseorang membutuhkan sesuatu yang mengingatkannya akan tujuan penciptaanya. Dia diciptakan di dunia bukan untuk berleha-leha dan bersenang-senang. Dia diciptakan untuk membangun kehidupan di bumi ini dengan baik. Dia diciptakan untuk membangun kehidupan di bumi ini dengan baik.
Sesuatu yang berfungsi untuk mengingatkan kita akan hal itu adalah dengan memperbanyak mengingat Allah. Diantara orang yang paling membutuhkan dan seharusnya mempunyai akan hal ini (dzikrulloh) adalah para aktivis islam. Pasalnya, mereka rawan sekali terjangkiti penyakit hati semisal riya’, mencari pengaruh dan ingin diagungkan oleh orang lain.
Kita bisa melihat keseharian Rosululloh shallallahu alaihi wasallam. Beliau -walaupun merupakan seorang utusan Allah yang pastinya selalu dijaga oleh Nya- selalu mengingatNya disetiap tindak tanduk beliau sebagai pengajaran kepada kita umatnya. Ketika hendak makan beliau berdoa. Begitu juga sesudah makan. Ketika akan tidur beliau tidak lupa memohon perlindunganNya. Saat bangun tidur beliau memujiNya. Cukuplah beliau sosok yang patut kita contoh.

Kesimpulan

Sesungguhnya memperbaiki atau membersihkan hati membutuhkan tahapan yang tidak mudah. Namun jika kuncinya sudah kita pegang maka untuk melanjutkan ke depan akan terasa mudah. Kunci tersebut berupa rasa penghambaan kita kepada Allah. Hingga akhirnya kita bisa mersakan nikmatnya bermunajat denganNya disela-sela ibadah kita, saat kita membaca firmanNya dan kala kita melihat keindahan ciptaanNya. Untuk kemudian kita siap dan rindu mendengar panggilanNya dalam surah Al Fajr berikut ini :
(((((((((((((( ((((((((( (((((((((((((((( (((( (((((((((( (((((( ((((((( ((((((((( (((((((((( (((( ((((((((((( ((( (((((((( (((( ((((((((((( ((((((( ((((

27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
30. Masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr : 27-30).

Wallahu a’lam bisshowab

d
daftar pustaka
- Alqur’an Al Karim dan terjemahan maknanya KSA
- Asbabunnuzul lilwahidi
- Syarah hikam ‘Athoi’yah lilbuthi
- Syadzarotudzahab libni ‘imad
- Syahshiyyat istawqofatni lilbuthi
- Yugholithunak idz yaqulun lilbuthi

1 komentar:

  1. Wah sekelas universitas kok tulisannya salah dibetulin tuh trus arabnya ndak bisa dibaca lagi.... terlihat kayak copas dari word ajah

    BalasHapus